She's mine, However She Wears! [FF EXO x AKB48] - Chapter 04



She’s mine, however she wears!



Main Cast :
Other Cast :

-         - Luhan ex-EXO
-         - Sayaka ex-AKB48


-         - Sae SNH48
-         - Sehun EXO
-          etc.


***




Ia melihat ke arah jam tangannya, “Sepertinya mereka sudah selesai berbicara.”, ia beranjak dari kursinya dan memakai hoodie yang ia gantungkan di belakang kursinya. “Ayo pergi ke tempat Sehun-ah dan Miyazawa-noona, Sayaka,” Luhan tersenyum. Senyum kecut. Ia menuju ke tempat kasir dan membayar minuman serta makanan yang kami makan. Ia kemudian memakai penutup kepalanya. Satu hal yang membuatku tertegun...
Ia meninggalkanku di belakangnya.
Padahal tadi dia bahkan menyuruhku untuk berjalan di depannya.
Langkahnya sangat cepat seperti terburu-buru.
Seakan-akan aku tak berada di dekatnya.

------ CHAPTER 04 -------




Aku baru sadar ternyata aku ditinggal! Tck, anak kawaii itu malah meninggalkan seorang Lady di belakangnya! – aku mengambil daftar tagihan di meja, memakai jaketku dan mengejarnya. Aku berlari dan siap-siap memukulnya dengan heels yang kupakai.
“HEI, LUHAN BAKA! KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKAN LADY DI BELAKANGMU...!!! Yuo kenotto leave a ledisse, Baka!” teriakku kencang. Aku tak peduli dengan orang-orang yang melihatku dan Luhan.
Ia menoleh. Lalu memalingkan mukanya lagi. Ia tetap berjalan seolah tidak memperhatikanku.
“....sial!” aku mendengus.
Aku memegang dadaku......ittai, okka-san.

BRAK!!!!!

“Tolong!! Seseorang tolong!! Perempuan ini tiba-tiba jatuh..!!”

10 Jam Kemudian

....aku, dimana? Ittai... Ittaiiiii... Kepalaku sakit.....
“Sayaka-chan!” jerit seseorang. Ah, aku sangat mengenal suara ini. Suaranya yang seperti orang bodoh yang sangat tergila-gila dengan member boyband dari Korea Selatan... Oh iya.. kemarin kan kita sempat bertemu dengannya kan? Oh iya.. dia juga punya teman... siapa ya nama temannya? Lu.. Lucchan? Ah bukan.. Lucy? Tidak, aku yakin temannya itu laki-laki... siapa ya... Lu...
“....LUHAN?!” aku menjerit. AH! Tadi malam aku bertemu dengannya lalu kami berdua makan di kedai! Setelah itu dia meninggalkanku! Lalu.. lalu... dimana dia sekarang?!
“Sayaka-chan, kau bangun! Ini aku! Saecchan! Kamu masih mengingatku, kan?” tubuhku diguncang-guncang. Ittai, Saebaka.
Ne, watashi no shitte iru yo... (ya, aku udah tau kok..)” ucapku lemah sambil memasang wajah belas kasihan pada baka Saecchan yang seenaknya mengguncang-guncang orang yang sedang sakit.
Aku melihat sekelilingku. “...aku di rumah sakit? Sejak kapan?”
“7 jam yang lalu, lho! Kukira kau akan mati....., Sayaka-chan.... Aku sangat mengkhawatirkanmu..” Sae memelukku erat. Tubuhnya gemetar seperti ingin menangis. Ah.. aku jadi merasa bersalah dengan anak ini. Aku seenaknya sakit seperti ini, ‘payah sekali tubuhku’ gumamku pelan. Aku mengatakan pada Sae kalau aku tidak apa-apa dan sudah merasa agak baikan.
Ia melepaskan pelukannya.
Hening.
Ne, Sayaka-chan.. Kemarin, makasih ya,” ujar Sae tiba-tiba memecah keheningan yang cukup panjang.
“Mm-m,” aku menggelengkan kepala. “Aku seharusnya yg harus berterima kasih padamu karena telah menyelamatkanku, Saecchan..” aku tersenyum. Aku menyernyitkan dahi, mencoba menyebutkan nama laki-laki kawaii itu, tapi entah kenapa terasa sakit.. sh…. “Sae, Luhan gimana?”
Saecchan tersenyum lalu menggenggam tanganku erat. Aku bingung melihat sikapnya.
“Luhan-san telah melakukan sesuatu yg baik padamu, Sayaka,” jawabnya. Aku makin bingung melihat sikap cewek satu ini. Ia berusaha tersenyum, tapi tangannya gemetar.
“Sesuatu ap–”
Etto.. Sayaka-chan, aku mau latihan sebentar ya. Manager sudah menelfonku, tenang saja aku udah ngabarin kondisimu sama agensi kita. Mereka bilang, ‘Jibun no sewa o shi, bitamin o nomu koto o wasurenaide kudasai’ (jaga dirimu dan jangan lupa minum vitamin) tte...” pekiknya. Ia menirukan suara Manager­-san dan ekspresinya sambil berpura-pura membenarkan kacamata.
“...BUAHAHAHAHAH!! KYAHAHAHAA..!!” aku tertawa lepas.
Sae tersenyum lebar sambil melakukan tanda ‘peace’. Ia lalu menutup pintu kamar.
Tapi, aku tahu Sae belum meninggalkan pintu itu.
Ia masih berdiri di depan pintu.
Hingga beberapa menit kemudian bayangan Sae beranjak pergi.

Aku mulai mengingat kejadian kemarin malam. Tch... Luhan... apa dia marah gara-gara ucapanku ya? Tapi, kalau dia memang marah seharusnya dia menjawab sesuatu agar aku bisa minta maaf padanya! Kalau begini, ketika aku sudah sampai Jepang, aku jadi susah minta maaf padanya kan!
Aku memeluk gulingku erat. Berputar ke kanan dan ke kiri.
Aitakatta...” ucapku lemas. Aku merindukan ketika kita bercanda bersama, Luhan-san.

Luhan, kenapa kau meninggalkanku?





Jangan tinggalkan aku, Luhan. Tolong...