Pengunduran Diri dari Dunia Cosplay

Assalamualaikum wr. wb.
Selamat malam teman-temanku yang kece.
            Seperti kata pepatah (sebenarnya aku gak yakin ini pepatah beneran atau bukan), Cinta dapat merubah segalanya. Postingan kali ini, aku akan membicarakan pengalaman pribadiku yang menyangkut soal kata ‘cinta’ itu. Sekali lagi, aku gak yakin ini cinta atau cuman suka biasa. Yak, mari kita mulai.
Nur Hanna Mardhiyyah, Kelas 6 SD tahun 2010
            Saat itu, aku bocah ingusan yang suka main di sawah. Sok jagoan dan suka berantem (ya, aku akuin dulu aku sangat brutal). Bahkan kebanyakan teman-teman cewek SDku ini rata-rata suka main kekerasan, dikit-dikit gebuk, dikit-dikit keplak. Badanku yang gempal dan item buluk serta masih asar-asaran pakai kerudung itu sangat berbeda jauh denganku sekarang (banyak yang bilang begitu). Hingga suatu hari, aku memasuki sebuah bimbel ternama di tempatku tinggal –berhubung sudah kelas 6 SD dan mau ujian. Wajar.
            Akan tetapi, hal wajar itu ternyata membekas di ingatanku.
            Aku masuk ke kelas 6 REG 51 di semester awal. Dan disana aku melakukan hal seperti biasa; datang, menyimak, mencatat, pulang. 2 sampai 3 kali seminggu aku melakukan aktifitas seperti itu. Ya, karena mungkin gurunya juga asik dan mudah bergaul dengan murid, hari-hari itu tidak membuatku jenuh sama sekali.
            Hingga jatuh saatnya, aku mulai memperhatikan teman-teman sekelasku. Aku tahu masa puberku terlalu cepat (aku datang bulan saat kelas 5 SD), aku mencoba-coba memikat anak laki-laki di tempat bimbelku itu. Terdengar naif dan kekanakan memang. Tapi, hasil pengamatanku itu tertuju pada satu orang. Ia memiliki sebuah aura yang memancing daya tarikku dan hanya dengan melihat penampilannya saja sangat menarik. Seiring berjalannya waktu, ku tahu kalau dia anak yang pandai (selalu dapat ranking atas ketika ada Try Out –aku tidak satu sekolah dengannya).
            Rasa ‘penasaran’-ku itu pun aku ketahui, dan berubah menjadi rasa suka. Benar-benar perempuan cabe yang naif, aku merasa kalau dia juga menyukaiku.
Nur Hanna Mardhiyyah, Kelas 7-9 SMP N 3 Batang tahun 2011-2013
            Aku percepat karena jika tidak, satu dekade pun mungkin tak bisa diselesaikan hanya untuk menulis ini (oke ini berlebihan). Awalnya, aku tak tahu kalau orang yang aku sukai di bimbel itu akan mendaftar di sekolah ini, dan aku memang niatnya cuman ikutan sahabat-sahabatku di SD. Allah SWT mempertemukan kita. Dia satu kelas denganku di tahun pertama, di saat itu juga aku menjalin persahabatan dengan orang-orang yang bernama Nilam, Maasah, dan Ratna. Aku sengaja menyebutkan nama asli.
            Di tahun kedua, kami berpisah. Aku juga berpisah dengan sahabat-sahabatku. Lucky, kelasku dan kelas dia tidak jauh. Hanya tembok yang memisahkan kita berdua. Sungguh, aku sangat naif karena masih berpikir dia menyukaiku yang tomboy, item buluk, biasa-biasa saja dan gempal. Bak piring yang masih baru saja dibuat, tiba-tiba saja sebuah berita menghantam piring itu dan akhirnya retak…. Ya perasaanku retak mendengar bahwa ‘dia’ berpacaran dengan salah satu teman dekatku di SD. Mungkin aku tidak begitu kecewa, karena temanku itu memang cantik dan putih langsing, berbeda denganku.
            Saat itu pula, aku merasakan sebuah perbedaan.
            Di tahun ketiga aku belajar di SMP terfavorit itu, aku kembali satu kelas dengan teman-temanku yang dulu bersamaku di tahun pertama (emang aturannya gitu sih). Bahagia, tentu. Deg-degan, tentu. Apalagi ditambah perubahan pesat dia yang semakin tinggi, membuatku tak henti-hentinya memikirkan dia. Skip saja, datanglah hari itu. Sahabatku bernama Nilam, dia ternyata berpacaran dengan dia yang ku taksir dari dulu.
            Aku tak percaya.
            Tak ingin percaya.
            Nilam, dia pernah ku beritahu kalau aku naksir dengan dia. Ku ceritakan dari awal pertemuan hingga saat dulu duduk di kelas 7, walau aku sudah tak pernah bercerita tentangnya saat kami sekelas lagi. Aku berusaha lari dari kenyataan, tapi sebuah gossip menamparku begitu keras. “Mereka udah pdkt saat kelas 7, tapi si laki-lakinya malah phpin Nilam terus pacaran sama cewek cina itu. Eh, tapi akhirnya dia malah putus terus balik ke Nilam deh,
            Aku terjatuh. Sakit. Tamparan tersakit yang secara tidak langsung menembus hatiku.
            Aku melarikan diri, aku melarikan diri lewat Cosplay.
            Aku sedari kecil memang suka dengan anime Naruto. Saat kelas 8 aku pun berusaha mencari-cari episode terbaru tentang Naruto, dan akhirnya kecanduan. Aku juga mulai melirik beberapa anime yang sedang banyak dibicarakan kala itu, dan akhirnya kecanduan lagi. Aku juga mulai diajak temanku untuk mendirikan sebuah komunitas jejepangan di Batang (namanya Majisuka Batang). Bisa dibilang aku tetua pendiri loh.
            Mengulik tentang jepang kadang membuatku melupakan rasa sakit akibat ditikung teman itu. Aku pun mencoba-coba untuk datang ke sebuah event Jepang, event Jepang pertama kali aku datangi yaitu “Orenji 2012” bertempat di Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang. Aku sangat terpukau, membuatku ingin menjadi salah satu dari mereka. Ya, mereka menyebut diri mereka cosplayer.
            Hingga akhrinya aku mendalami hobiku tersebut dan mendatangi beberapa event Jepang lagi, bahkan pernah menjadi Guest Star walaupun di event sederhana (tidak sebesar Orenji, tapi aku sangat senang!), belajar make-up, belajar tampil di depan umum, mengasah kreatifitas, menjadi MC, hingga mendirikan sebuah event atau acara Jepang sendiri di Batang. Untuk yang pertama kalinya. Dan itu pun dibantu oleh banyak orang. Aku juga belajar bergaul dengan orang dewasa yang sudah kuliah, mendengarkan mereka berpendapat (kalimat mereka sangat terperinci membuatku kagum), bergaul dengan orang dewasa yang masih mencari kerja ataupun yang sudah kerja. Tentu saja aku pilih-pilih dalam bergaul, aku tak ingin jatuh dalam lubang ‘sampah masyarakat’. Dan mereka semua adalah alasanku aku bisa menjadi sangat percaya diri saat ini. Tanpa mereka, aku mungkin hanya pecundang yang duduk manis di kamar sambil memainkan laptopnya tiap hari.
            “Aku ingin bermanfaat.” Itu yang pertama kali terbesit di benakku.
Nur Hanna Mardhiyyah, Kelas 10 SMA N 4 Pekalongan tahun 2014
            Aku tak bisa memungkiri bahwa bayangan masa lalu tentang rasa sakit itu juga kerap kali menghantuiku. Aku jadi malas berhubungan dengan laki-laki (padahal biasanya aku selalu mengincar salah satu teman sekelasku, siapa tahu bisa kepincut), ya walau masih suka nosebleed lihat karakter anime ganteng atau cogan lewat.
Untuk menaruh rasa itu lagi, susah.
Tapi pada akhirnya, aku bisa mengembangkan beberapa kompetensiku di bidang cosplay tanpa memikirkan siapa yang aku sukai (maaf mas mantan, kau memang pernah singgah, tapi itu dulu). Menjadi Cosplayer internasional seperti Reika dan Yuegene Fay membuatku termotivasi agar terus mengembangkan bakatku. Hingga aku yang dulu gempal menjadi agak mengecil di kelas 9 SMP – 1 SMA ini. Aku berusaha mati-matian agar tubuhku terlihat bagus dan cocok ketika memerankan karakter yang aku suka.
Jujur, semata-mata untuk mencari perhatian.
Agamaku belum kuat.
Nur Hanna Mardhiyyah, Kelas 2 SMA N 4 Pekalongan tahun 2015
            Kebetulan saat itu aku mengikuti 2 organisasi di sekolahku, Pramuka dan Paskibra. Entah apa yang memasuki tubuhku saat itu, aku menjadi giat dalam kedua organisasi itu. Mengikuti kegiatan sana-sini, membantu memecahkan masalah organisasi dan andil dalam sebuah kegiatan perlombaan yang membawa nama sekolah. Seakan-akan doaku ketika di SMP terkabul. Ya, tentu saja aku ingin ikut perlombaan, tapi karena SMPku berisikan siswa-siswi terbaik, aku yang biasa saja ini tak memiliki kesempatan di sana.
            Aku menikmati waktu-waktu itu. Walau sibuk, sangat menyenangkan.
            Datang lagi. Ya, kejadian itu datang lagi. Aku terpikat oleh aura dan pesona seorang laki-laki dimasa putih abu-abu ini. Dia orang yang religius, gila dan menarik. Aku tak bisa menolak aura itu, jiwaku pun terpanggil. Seolah dia mengetuk pintu hatiku yang terdalam.
            Tapi, dialah yang menjadi sumber aku menjadi seperti sekarang ini.
            Aku memutuskan untuk lebih mendalami ilmu-ilmu di sekolah, mendalami apapun yang dia suka…. Dan tak lupa, aku ikut mendalami agama. Semakin aku mendalami, aku merasa aku semakin bodoh. Aku sungguh naif, berpikir bahwa semuanya pasti baik-baik saja ke depannya. Aku belum cukup dalam mencari ilmu. Aku masih lemah dalam urusan agama. Aku ingin mendalaminya. Sungguh, indah sekali saat kamu berusaha mendalami agama Allah SWT. Terima kasih ya, kamu… dan tentu saja teman-temanku!

Dan saat ini, datanglah dimana aku harus memutuskan sebuah jalan hidupku untuk yang ke depannya. Dengan ini aku mengumumkan,
            “Nur Hanna Mardhiyyah (insha Allah) akan berhenti dari dunia Cosplay dan memutuskan untuk belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik ke depannya. Agar bisa membanggakan kedua orang tuaku, agar bisa membuat mereka senang, agar bisa membuat mereka memasuki surga Allah SWT, aku ingin bertaubat. Aku tau aku naif, aku tau bahwa aku pecundang. Karena mungkin saja aku akan melakukan dosa lagi dan mungkin saja akan kembali melakukan Cosplay. Maka dari itu, aku ingin menyumbangkan kostum Cosplayku bagi siapapun yang berminat (aku sudah membuat postingan tentang ini di Facebook-ku). Tujuan hidupku cuma satu, aku ingin membuat mereka memasuki surga Allah SWT. Aminn. Wahai teman-temanku, apabila aku berusaha untuk kembali ke ‘urusan itu’ di dunia fana ini, mohon hentikan aku. Tanpa kalian, aku bukan apa-apa,

Semoga bermanfaat, maaf menyingguh hati.

Sekian, Wassalamualaikum wr. wb.