(Spoiler) You're My Object [FF EXO] chapter 2

(SPOILER)
You’re My Object [FF EXO] chapter 2


Halo. Aku Na Yeon. Aku seorang stalker pro, bukan sasaeng fans. Aku menjadi stalker karena dibayar. Itupun tidak murah seperti tiket konser para artis, lho. Bisa dibilang cukup mahal. Ntah kenapa, sejak kejadian si Sehun yang pernah menciumku –aku tidak mau mengingatnya lagi!- membuatku demam 2 hari 3 malam.
Sebelumnya, aku sangat tidak menyukai artis. Artis apapun itu. Mau rapper, dancer, aktor ataupun aktris. Aku sangat anti dengan mereka. Tetapi, karena ayahku –yang seorang Perdana Menteri Korea Selatan- sangat pelit, dia hanya memberiku 1000 Won perbulan!, memaksaku untuk mencari kerja sendiri tanpa bergantung pada keuangannya. Dengan syarat membelikan SLR beserta lensa-lensanya untukku, ayah setuju agar aku mau bekerja sendiri –yang terpenting tidak melecehkan nama baiknya. Ayah, oh ayah.
Setelah Sehun menjadi targetku, aku mulai menutup usahaku menjadi stalker. Hatiku sangat sulit untuk tidak men-stalk artis selain Sehun. Ah.. bodohnya aku!
***
“Na Yeon-ssi,” panggil seseorang. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku.
Aku kemudian terbangun kaget. Apa yg barusan ku dengar? Itu suara Sehun. Ta-tapi, tidak mungkin Sehun ada di sini sekarang. Aku kan sedang ada di sebuah cafѐ, sangat tidak mungkin Sehun di sini, batinku.
Aku menepuk pipiku beberapa kali. Agar tak terus-terusan membayangkan si artis pemalu itu.
“Ya, Na Yeon-ssi,” panggil seseorang lagi. Aku menengok ke belakang, ke samping kanan dan samping kiri. Tak ada. Aku memegang lenganku. Hantu atau... aku hanya berhalusinasi?
Aku memegang kamera SLRku kuat-kuat. Hawa di sekitarku mulai terasa berat. Seperti ada yang men-stalk diriku. Aku menengok ke belakang lagi. Belakangku kursi kosong. Aku menengok samping kananku, tak jauh dari tempat dudukku, ada seorang laki-laki menggunakan jaket hitam tebal, memakai kacamata dan topi. Sedangkan sebelah kiriku adalah seorang perempuan dengan pacarnya.
“Na Yeon,” panggilnya. Aku menengok ke samping kanan. Mengamati inchi tubuh laki-laki berjaket tersebut.
“Gak mungkin!” teriakku. Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Itu Oh Se Hoon!
Laki-laki berjaket tersebut menatapku penuh arti. Bibirnya mengucapkan sesuatu..... “Come here”. Aku kaget, tetapi ntah mengapa tubuhku seperti terkena sihir yang ada di Harry Potter, berjalan sendiri menghampiri laki-laki berjaket hitam itu.

Annyeong. Oh Se Hoon imnida,” ucapnya lirih. Ia melepas kacamata yg dipakainya. Aku ternganga.