The Train Boy


The Train Boy

Hari ini masih secerah hari kemarin maupun hari-hari sebelumnya, tapi, sudah 5 menit aku menunggunya, ‘Si Cowok Kereta Api’. Aku selalu melihatnya di peron tepat jam 8.

Saat itu, aku tak sengaja menyenggol ‘Si Cowok Kereta Api’ itu, lalu menjatuhkan buku-bukunya. Sebelum aku memungutnya, ia langsung mengambil buku-buku itu dan berlari menuju kereta api bawah tanah nomor ‘10b’ jurusan Kudus. Esok harinya, aku datang pukul 7 kurang 5 menit. Belum ada ‘Si Cowok Kereta Api’ itu. Tapi anehnya, saat kereta api bawah tanah nomor ‘10a’ lewat, sekelebat bayangan muncul di balik bayangan kereta bergerbong 4 itu. Setelah ia sudah tak terlihat, disana ada ‘Si Cowok Kereta Api’! Ia memang seolah-olah turun dari kereta api itu, tapi bukankah tadi kereta nomor ‘10a’ itu lewat, bukan berhenti di peron? Lalu, bagaimana ia datang? Loncat dari pintu kereta itu kah? Ah, tak mungkin. Sejak saat itu, aku mulai memperhatikannya. Sosoknya memang seperti seorang ‘scholarship’ dari Cina, Jepang atau Korea. Rambutnya ia buat seperti model artis Justin Bieber – dengan poni dimiringkan, badannya tegap mencerminkan kalau dia orang yg tegas dan berwibawa, dadanya bidang, berkacamata dan selalu membawa tas lusuh berwarna coklat. Bajunya juga kadang putih, coklat atau biru. Itu-itu saja.
“Sederhana sekali” pekikku saat hari ketiga pengintaianku. Aku seperti seorang stalker saja, ya? Haaah, biarlah.
Sosoknya memang seperti pelajar ‘scholarship’ dari Cina, Jepang, atau bahkan Korea. Tapi, saat hari kelima pengintaianku, aku menemukan fakta bahwa dia adalah salah satu murid di Universitas Semarang. Kuintip lagi, oh! Dia ternyata warga pribumi. Waktu itu, hari kelima pengintaianku, ada seorang nenek akan menyeberang ke tempat aku berdiri, dia langsung berkata, “Monggo, nek. Kula anterkenipun” sambil tersenyum manis. Aiiih, jantungku berdegup dibuatnya.
Back. Sudah 2 minggu aku bertemu dengannya – tiap jam 8 tepat, kejadiannya selalu seperti tadi. Hari ini ia tak datang. Aku cemas, apakah terjadi sesuatu dengannya? Apakah ia sakit? Atau keluarganya ada yg sakit? Mungkinkah ibu, ayah atau adiknya sakit lalu ia harus menjaga mereka dan rumahnya? Sekarung jawaban mulai menetas satu persatu di otakku yg masih kelas 3 SMA ini. oh, gila. Sudah 1 jam aku menungguinya di peron ini. Tapi yang hanya kulihat hanya orang-orang sibuk berlalu-lalang dihadapanku, mungkin ada juga yg sedang menarik perhatianku karena pagi ini aku menggunakan T-shirt selengan, celana jeans dan topi koboy, ataukah mereka hanya mengira aku orang gila? Haha, aku cuek saja.
“Mana, sih?” aku menggoyang-goyangkan kakiku. “Apa aku perlu pergi ke Universitasnya dan menanyakan kabar pada para teman-teman kampusnya dan para dosennya? Aissh, kenapa aku mengkhawatirkan orang yang sama sekali tak ku kenal?” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Ya, kami kan hanya ‘orang-yang-menjadi-penumpang-subway-train’ ini saja. Tak lebih.
Tik..
Air mataku jatuh. Ntah kenapa. Aku menundukkan kepala agar semua orang tak tahu aku menangis. Aku akan sangat sangat malu jika semua orang tau aku menangis, ini kan tempat umum. Aku merogoh kedua saku jeansku. Oh ya, aku lupa membawa tisu. Aduh..
“Kenapa nangis?” tanya seseorang. Aku menggeleng, “Tak apa” aduh, pasti suaraku terasa bergetar karena menahan emosiku. “Ini. Kau butuh sapu tangan” orang asing itu menyerahkan sapu tangannya. Ah, biarlah, kugunakan saja sapu tangan ini.
Aku mendongakkan kepalaku. Oh dear... apakah aku sedang bermimpi? ‘Si Cowok Kereta Api’ itu ada dihadapanku sekarang! Ia-lah yang memberikan sapu tangan. Aku menunduk lagi. ‘Si Cowok Kereta Api’ itu menyentuh lembut pipiku yang basah dan berkata lirih dengan lembut, “Ada apa? Apakah aku yang membuatmu menangis?”. God, pasti aku sudah tuli sekarang, kata-kata semanis itu langsung mengenai hatiku.
Aku mengangguk lemas. “Aku... aku sungguh khawatir dan cemas. Kenapa kau tak datang? Apakah kau sakit? Berkilo-kilo pertanyaan bertebaran di otakku. Aku tak tau aku kenapa, yang jelas, saat kau mengantarkan nenek-nenek itu dan tersenyum manis, juga waktu kau membisikkan bisikan lirih nan lembut itu padaku, hatiku berdegup sangat kencang..” aku menutup hidungku. Pasti ingusku akan keluar kalau aku lanjutkan kata-kata itu.
“Jadi, kau juga menyukaiku? God, terima kasih. Cintaku yg sudah kupendam 2 tahun lamanya akhirnya terbalas.. Kau memang maha adil, God” ia memelukku yang masih kebanjiran tangisan dan ingus. Kemudian ia menarik wajahku sambil berkata, “Hai. Sudah lama tak bertemu. Aku Rendi, kakak kelasmu dulu, sekaligus orang yang mengirimimu sebuket bunga mawar valentine lalu. I Love You, Zee..”