Enemy or Best Friend?


Dua sahabat yang biasa dijuluki ‘Two Angels’, ada Sesilia dan Kei. Keduanya sedang menyimak pelajaran sejarahnya Pak Joe. Pak Joe mengambil selembaran kertas di laci mejanya, membenarkan dasinya dan mulai membacakannya pada murid-murid di kelas dimana ada Sesilia dan Kei.
“Pengumuman Hasil Nilai Ulangan Mingguan Sejarah minggu ini,” umumnya. “Peringkat pertama diraih oleh......... Sesilia Novita Andyni!” tepuk tangan para murid kelas 7E seketika memenuhi ruangan kelas itu. Sesilia tersenyum manis saat beberapa temannya menoleh ke arahnya dan mengucapkan selamat. Melihat itu, hati Kei terasa panas. Ntah kenapa.
“Peringkat terakhir, dicapai oleh............ Anastasiya Keila Maharani!”. Hening. Semua yang ada di kelas itu terdiam. Biasanya, mungkin semua anak akan menertawakan orang yang mendapatkan peringkat terakhir itu. Baru pertama kali ini mereka tak menertawakannya. Ya, karena Kei adalah siswi yang selalu masuk peringkat pertama dalam ulangan sejarah, selalu. Tapi kini? Sesilia menoleh ke arah sahabatnya itu, terlihat sekali wajah Kei yang nampak sedih, kecewa dan ditekuk-tekuk. Sesil menepuk pelan sahabatnya, “Sabar.. Nanti kita belajar bareng lagi, ya...”
GRAKK!
“AKU GAK PERLU DIKASIHANI! KAMU UDAH PUAS LIAT AKU MENDERITA? HAH!?” bentak Kei. Ia lalu pergi ke toilet dan disusul dengan hempasan pintu yang cukup membuat Jia, teman mereka, terlatah-latah.
Kei menghapus air matanya. Hiks.. kenapa aku harus menjadi peringkat terakhir? Padahal aku selalu dan selalu menjadi peringkat pertama.. kenapa si Sesil, sahabatku sendiri yang mengambil posisiku? KENAPA? teriak Kei dalam hati. Air matanya terus mengalir bagai air terjun. Kei yang sadar tadi telah membentak Sesil, dan itu keras sekali, malu untuk kembali ke kelas. Di dalam toilet, ia terus memikirkan cara agar tak bisa kembali lagi ke kelas itu. Dan akhirnya, ia memilih untuk pura-pura sakit dan izin pulang karena tak enak badan.
Di kelas, Sesil menunggu dengan cemas sahabatnya itu. Pak Joe berusaha mengendalikan suasana. Bu Ani, penjaga UKS masuk ke kelas 7E. Beliau membisikkan sesuatu pada Pak Joe, dan pamit kembali ke UKS. Mimik Pak Joe berubah cemas, Sesil bisa menebak pasti ada apa-apa dengan Kei. “Kei tak enak badan. Ia izin pulang. Wajahnya pucat dan matanya sembab.” ujar Pak Joe.
Kei merebahkan badannya ke ranjang bergambar Girls’ Generation yang berwarna pink. Ia memeluk guling kesayangannya erat, teringat kejadian tadi, Kei menangis sejadi-jadinya. Lucky, di rumah Kei tak ada siapa-siapa. Hanya Bi Pah yang sedari tadi menyirami bunga di taman. Kei membuka tasnya, dicarinya hasil ulangan mingguan yang tadi dibagikan. Ia meremas kertas itu dan membuangnya ke tong sampah. “Kenapa dia jadi lebih pintar dari aku, sihh! Jelas-jelas IQ-ku lebih tinggi daripada dia!” amuknya.
***
Sudah 4 hari Sesil dan Kei tidak saling berkomunikasi. Walau Sesil sering mengatakan ‘maaf’, ‘sorry’ kepada Kei, seakan-akan itu hanya angin lalu bagi Kei, ia tak mau menjawabnya dan memilih menghindar. Di hari kelima ini, tanpa di sengaja, Kei mendengar pembicaraan dua orang siswi di toilet sekolahan.
“Hei. Si Kei sengak banget, ya. Jelas-jelas Sesil udah minta maaf secara tulus gitu, masih aja gak ditanggepin. Dasar bodoh.” makinya. Mendengar itu, Kei ingin sekali memukul cewek yang berani mengatai dirinya, ‘bodoh’ dan ‘sengak’.
“Iya. Sehari sebelum diadakannya ulangan sejarah, tau gak ada apa?” tanya cewek satunya.
“Apaan tuh?”
“Aku lihat Kei belanja di mall! Habis dari Timezone sama beli baju dia mah! Ckck, pantesan nilainya njeblok gitu!”
“Dia udah ngerasa pinter kali!” timpal cewek tadi.
JLEB! Dada Kei sakit. Seperti ditusuk panah sakti, hatinya remuk seketika. Tak disadari, air mata Kei keluar begitu saja. Ah.. iya, ya. Bodohnya aku, kenapa aku tak belajar? Kenapa aku malah pergi ke mall? isak Kei dalam hati. Ia sadar sekarang. ‘Seharusnya aku sadar diri..’
Kei keluar dari toilet, disana sudah tak ada 2 siswi tadi. Ia melangkah menuju meja Sesil. Sesil yang sedang mengobrol dengan temannya menoleh ke arah Kei. “Hai, Kei!” sapanya riang.
“A.. aku.. mau minta maaf. Aku.. aku gak instropeksi diri, Sil. Sehari sebelum ulangan, aku malah pergi ke mall. Bodoh ya, aku ini?” Kei berlutut ke arah Sesil. Sesil kaget. “Maaf, Sil. Maaf.. seharusnya aku dukung kamu, kasih kamu selamat, aku malah... malah marahin kamu...”
Sesilia tersenyum manis.
“Nggak. Nggak apa-apa. Aku udah maafin kamu, kok. Yaah, aku juga minta maaf udah ambil posisi kamu. Jadi?”
“Jadi?” Kei menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Jadi kita berteman?”
“Nggak!!” bantah Kei.
“Kenapa..?” mata Sesil berkaca-kaca.
“KITA BERSAHABAAAATTT!!!!!” Kei memeluk sahabatnya itu. Ya, tak ada yang namanya mantan sahabat.
Mari kita instropeksi diri sebelum menilai orang lain. Memikirkan ucapan yang akan kita ucapkan sebelum kita melukai orang dengan ucapan kita. Mulutmu, harimaumu. Jika mulutmu bau, segeralah gosok gigi(?).