Sepatu Rieka

Rieka bersorak gembira, kini uang yang ia tabung sejak 2 tahun yang lalu membuahkan hasil. Rieka akan menggunakan uang itu untuk membeli sepatu yang ia incar 2 Minggu yang lalu. Penjaga toko yang menjual sepatu itu pun sudah hafal dengan wajah Rieka, karena sehabis Rieka membantu orang tuanya memungut sampah plastik, ia selalu pergi ke toko itu untuk mengecek sepatu idamannya masih ada disitu, tak kemana-mana.
Rieka adalah anak yang gigih dan tekun. Walaupun ayah dan ibu Rieka pemulung sampah plastik, ia tetap bersyukur karena ia masih bisa merasakan enaknya memiliki kedua orang tua yang menyayanginya, melihat dunia, dan mencicipi makanan khas ibunya yang menurutnya sangaaat lezat, ubi bakar. Ia jg tak lupa dengan sekolahnya, dengan sepeda wasiat, Rieka melewati padang rumput nan panas yang tentunya membutuhkan jarak tempuh hampir ribuan kilo.
Rieka menyeka keringat yang ada di dahinya, perlahan kaki yang dibalut dengan rok warna biru khas anak SMP mengayuh sepeda wasiat itu. Hatinya yang gigih tidak membuat Rieka putus asa walau jarak menuju ke toko itu sangaatlah jauh.
Tiba-tiba..
Bruk!
Tanpa sengaja Rieka menabrak seorang kakek-kakek yang melintas didepannya. Segeralah ia membantu sang kakek itu berdiri, tergores luka yang agak parah di lututnya. Rieka memapah kakek itu ke boncengan di sepedanya,
“Kek, kakek akan saya bawa ke klinik terdekat. Sebelum itu, saya minta maaf ya kek..” sesal Rieka. Wajahnya yang cantik itu menunduk, ia merasa bersalah pada kakek.
“Sudah tak apa, cu.” sang kakek menepuk-nepuk pundak Rieka.
***
Sampainya di klinik yang berada di sebelah kampung tempat Rieka tinggal, kakek dibawa oleh beberapa petugas di klinik itu.
Hati Rieka cemas dengan kondisi kakek tersebut. Ia berlari menuju ke meja resepsionis dan menanyakan berapa harga obat yang harus ia bayar mengingat kondisi luka kakek agak parah.
“Semuanya jadi Rp. 80.000,00” kata mbak resepsionis itu.
Ingin pingsan rasanya mendengar kata mbak resepsionis itu. Uang yang akan ia gunakan untuk membeli sepatu pupus diseperempat jalan. Dengan ragu, ia merogoh uang tabungannya dari sakunya. ‘Ya Tuhan, kuatkan hambamu ini..’
Hati Rieka mantap. Ia merasa kalau ia bersalah pada kakek itu dan memberikan uang tabungan yang akan Rieka gunakan untuk membeli sepatu idamannya itu. Kemudian, karena kondisi kakek belum fit, Rieka disuruh pulang duluan. Dengan berat hati, Rieka mengiyakan melihat langit sudah mulai berubah warna menjadi merah-jingga-kuning, artinya waktu senja telah tiba.
“Sudahlah Rik, kau sudah cukup tegar menghadapi itu. Lain kalilah saja untuk membeli sepatu itu, masih banyak hari. Ingat kata ibu ini ya, jika kita memberi orang lain dengan ikhlas, maka kita akan diberi oleh-Nya sesuatu yang tak kalah indah dari yang kita beri itu. Jadi, berhentilah untuk meratapi kesedihanmu, banyak sepatu yang menunggu lirikanmu yang cantik itu!” ucap ibu Rieka sambil mengelus-elus rambut Rieka yang lurus hitam lebat.
“Ye, bu, aku akan tetap sabar dan berusaha tersenyum. Aku akan mengumpulkan banyak uang lagi agar aku bisa melirik sepatu-sepatu baru!”
Ibu Rieka memberi 2 jempol pada anaknya.
Esoknya, tak ada angin, tak ada iwak peyek, tak ada bakul batagor, tiba-tiba ada sebuah bingkisan di depan rumah Rieka. Rieka melongok jam dinding yang ada di ruang tamu, ‘belum jam setengah 6, aku tak kan terlambat jika kubuka bingkisan misterius ini’ batinnya.
Oh My Goat!
“Omaigut, apakah aku tak bermimpi?” sentak Rieka agak alay. Rieka menggosok-gosok matanya. Ia tak percaya apa yang ia lihat sekarang. Sepasang sepatu yang ia idamkan muncul dihadapannya! Rieka ingin menangis terharu.
Ayah dan ibu Rieka menghambur ke ‘wajah’ rumah karena mendengar sesuatu.
“Ya Tuhan, apakah ini yang kau berikan pada anakku? Terima kasih, Tuhan! Terima kasih!!” ayah Rieka bersujud syukur atas apa yang terjadi.




Rieka tiba-tiba ingat kata-kata ibunya, ‘jika kita memberi orang lain dengan ikhlas, maka kita akan diberi oleh-Nya sesuatu yang tak kalah indah dari yang kita beri itu’.